Model-Model Pelatihan

1. Perkembangan pelatihan

Pelatihan sebagai sebuah konsep program yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang (sasaran didik), berkembang sangat pesat dan modern. Perkembangan model pelatihan (capacity building, empowering, training dll) saat ini tidak hanya terjadi pada dunia usaha, akan tetapi pada lembaga-lembaga profesional tertentu model pelatihan berkembang pesat sesuai dengan kebutuhan belajar, proses belajar (proses edukatif), assessment, sasaran, dan tantangan lainnya (dunia global dll.).

Model pelatihan pada awalnya berkembang pada dunia usaha terutama melalui magang tradisional, dalam sebuah magang tradisional kegiatan belajar membelajarkan dilakukan oleh seorang warga belajar (sasaran didik) dan seorang sumber belajar (tutor), maka dalam perkembangan selanjutnya interaksi edukatif yang terjadi tidak hanya melalui perorangan akan tetapi terjadi melalui kelompok warga belajar (sasaran didik, sasaran pelatihan) yang memiliki kebutuhan dan tujuan belajar yang sama dengan seorang, dua orang, atau lebih pelatih (sumber belajar, trainers). Salah satu konsep mengapa model pelatihan dibangun adalah sangat bergantung pada kondisi itu (warga belajar, sasaran didik dan pelatih/tutor). Hal tersebut sangat beralasan karena kebutuhan dan tujuan pelatihan (Allison Rosset, 1987) dapat tercapai apabila warga belajar, tutor saling memahami, menghargai, pengertian dan saling membelajarkan satu dengan lainnya. (Djudju Sudjana, 1993: 12). Di dalam dunia usaha model pelatihan (Training) dibangun atas dasar kebutuhan peningkatan produksi, memperluas pemasaran, dan kemampuan perusahaan dalam memantapkan pengelolaan unit usaha itu sendiri. Interaksi edukatif yang terjadi pada model pelatihan itu adalah adanya interaksi edukatif antara tiga kelompok orang dalam kegiatan belajar nya. Kelompok pertama, adalah orang-orang yang telah memiliki keahlian dalam bidang usaha. Merekalah yang menguasai pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan produksi, pengadaan bahan Baku, dan pemilikan Dana. Kelompok kedua, yakni orang-orang yang telah memiliki keahlian sebagaimana keahlian kelompok pertama. Keahlian itu mereka peroleh dengan belajar dari kelompok pertama, namun mereka tidak memiliki modal usaha. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki keahlian sebagaimana keahlian yang telah dimiliki oleh orang pertama dan kedua. Orang-orang yang termasuk pada kelompok ketiga ini sedang belajar dari kelompok pertama dan atau kelompok kedua pada saat mereka bekerja di perusahaan. Dengan kata lain mereka belajar sambil bekerja. (Djudju Sudjana, 1993:13) Kondisi dan perkembangan interaksi edukatif tersebut terjadi pada abad pertengahan, ketika dunia industri mulai berkembang. (Abad pertengahan sampai awal abad ke-19)

Sejak masa rintisan sampai masa sekarang latihan terus tumbuh dan berkembang, Latihan dilakukan oleh berbagai lembaga pemerintah, badan-badan swasta, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Lembaga-lembaga pemerintah baik yang berstatus departemen maupun non-departemen, menyelenggarakan pelatihan dalam berbagai bidang terutama yang berhubungan dengan tugasnya, latihan tersebut di antaranya bertujuan meningkatkan kemampuan staf dan petugas dalam lingkungan mereka masing-masing. (BP3K, 1973). Beberapa kategori dan model pelatihan yang dilakukan lembaga pemerintah departemen dan non-departemen di antaranya adalah dalam bentuk: pre-service training (pra jabatan), in-service training (latihan dalam jabatan) dan social service training (latihan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat). Pelatihan-pelatihan tersebut di antaranya berdasar pada konsep kebutuhan jabatan dan atau self-actualisation.

Perkembangan pelatihan sehingga melahirkan model-model pelatihan yang sederhana sampai pada model pelatihan yang kompleks sangat bergantung pada budaya manusia (masyarakat itu sendiri). Terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan (belajar), usaha, manajemen, teknologi, masyarakat dll.).

Suatu model pelatihan dianggap efektif manakala mampu dilandasi kurikulum, pendekatan dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan belajar sasaran didik dan permasalahan-permasalahan yang terjadi di tengah-tengah nya. Untuk itu diperlukan persyaratan khusus dalam membangun sebuah model pelatihan yang efektif dan efesien. Persyaratan tersebut diantaranya adalah kebutuhan belajar peserta pelatihan (sasaran didik, warga belajar dll.) istilah tersebut dalam dunia pendidikan luar sekolah dikenal dengan TNA (Training Needs Assessment), SMA (Subject Matter Analysis) dan ATD (Approaches to Training and Development). (Allison Rossett and Joseph W.Arwady, 1987).

2. Pelatihan berdasar pada kebutuhan (Training Needs Assessment)

Kebutuhan pelatihan sangat berkaitan erat dengan kebutuhan belajar, kebutuhan belajar diartikan dengan kesenjangan kemampuan di antara kemampuan yang telah dimiliki dengan kemampuan yang dituntut, atau dipersyaratkan dalam kehidupan sasaran didik (peserta pelatihan). Kemampuan tersebut menyangkut kemampuan pengetahuan, sikap, nilai, dan tingkah laku sesuai dengan aspek yang menjadi konteks perhatian. Apabila kita sedang berbicara dalam kaitannya dengan peserta pelatihan (sasaran), maka kebutuhan peserta pelatihan (sasaran) tersebut sangat berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berlaku pada kehidupannya atau pada dunia kerjanya.

Kebutuhan belajar pada peserta pelatihan (sasaran) (manusia) dapat berkembang, bertambah dan berkurang, bahkan dapat secara berkelanjutan dan berganti-ganti. Terpenuhi nya suatu kebutuhan, dapat menjadi potensi untuk melahirkan kebutuhan baru yang kedudukannya lebih tinggi. Apabila peserta pelatihan (sasaran) telah memperoleh kemampuan membaca (sebagai kebutuhan dasar), kemudian dia menilai kemampuan membaca dirinya, setelah tahu bahwa dia mampu, dia akan berlanjut untuk mengetahui secara mendalam isi buku yang ditemuinya. Begitu pula apabila peserta pelatihan (sasaran) telah memahami pengetahuan dasar, maka secara langsung akan melakukan self-assessment dan hasil assessment tersebut akan menjadi modal untuk mengetahui pengetahuan yang lebih tinggi di atasnya. Akan tetapi di balik itu kebutuhan akan berubah bertambah dan berkurang, hal ini diakibatkan oleh keterbatasan peserta pelatihan (sasaran) dalam memandang penting atau tidaknya pengetahuan untuk diri sendiri, serta kemauan dan kemampuan dalam memahami diri.

Oleh karena itu kebutuhan belajar yang tumbuh dalam diri menuntut adanya program belajar yang dapat memenuhinya. Begitu pula keaneka ragaman kebutuhan belajar yang dirasakan menuntut adanya program belajar yang lebih aktif dan beraneka ragam pula. Sehingga usaha penetapan kebutuhan belajar perlu ada usaha untuk melakukan identifikasinya (approaches to training and development dan need assessment). Beberapa teknik TNA yang dapat dikenali diantaranya adalah : interviewing, Observing, working with groups, and writing questioners and surveys.

Ada beberapa model dalam melakukan identifikasi kebutuhan belajar : 1) model induktif, 2) model deduktif, 3) model klasik.

5 komentar:

Lenny Nuraeni mengatakan...

Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah senang rasanya bisa membaca alamat Bloger Bapak. Apalagi dengan materi2 yang berkaitan dengan model-model pelatihan. Menurut saya materi yang telah diuraikan diatas menggambarkan bahwa pelatihan merupakan suatu sistem yang menyeluruh. Dengan kata lain suatu program pelatihan yang dinilai efektif adalah bika berdasarkan pendekatan sistem proses. Suatu sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari sejumlah komponen atau bagian-bagian yang saling berhubungan (interelasi), saling pengaruh mempengaruhi (interaksi), saling ketergantungan (interdependensi), dan saling menerobos (interpenetrasi) antara satu dengan yang lainnya dan antara komponen-komponen tersebut dengan keseluruhannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Sistem pada hakikatnya adalah suatu keterpaduan. Dalam suatu sistem terpadu terdapat komponen komponen seperti: tujuan pelatihan, peserta, program pelatihan, kurikulum latihan, metodologi pelatihan, praktek kerja kapangan, pelatih, pemantauan pelatihan, penilaian pelatihan, kepemimpinan pelatihan, pasca pelatihan. Berdasarkan pendekatan sistem komponen-komponen tersebut dapat dikelompokan ke dalam komponen input yang terdiri dari raw input, instrumental input, dan proses.
Saya sangat berharap sekali bisa membaca tulisan bapak mengenai model-model pelatihan apa yang kira2 bisa diterapkan pada program Pendidikan Luar Sekolah (PLS)contoh seperti sistem kemagangan (intership training)dll..
Terima Kasih
Wassalamualaikum, Wr.Wb

Neng Rara mengatakan...

assalamualaikum..
miss Lenny : ulasan menarik miss lenny, suatu saat saya berharap berjumpa dengan anda.
mr. Kamil : Saya berharap ada penjelasan proses implementasi assesment untuk kebutuhan sebuah penyelenggaraan diklat. Pengalaman saya, ada lembaga yang langsung menyebar instrumen kebutuhan diklat kepada pelanggan (masyarakat), mitra lembaga tersebut, kemudian hasil instrumen tsb di rank, lalu responden yang mengisi instrumen terkait suatu saat dipanggil mengikuti pelatihan. Adalah jenis lain selain itu pak?
bila ada waktu kunjung balik ,mr.
trims.
salam

kamilun.kamil mengatakan...

Memang betul dalam sebuah pelatihan awal perlu asessment yang baik dan terukur, agar program (kurikulum, materi, strategi dan model pembelajaran yang dikemnbangkan sesuai dengan) harapan dan kebutuhan yang dirasakan sasaran. Ada beberapa teknik dalam mengukur kebutuhan, dimana teknik-teknik tersbut dikembangkan sesuai dengan tujuan dan kondisi sasaran pelatihan; kondisi sasaran pelatihan biasanya dilihat dari pengalaman, latar belakang pendididakan dan keterampilan (skill) yang telah dimiliki. Salah satu model pengukuran kebutuhan adalah apa yang anda tuliskan tadi. Ok thanks

min mengatakan...

Terima kasih Prof, atas informasinya,sangat bermanfaat buat saya dalam hal melengkapi kajian teori Disertasi saya. Mohon maaf Prof ... belum konsul belakangan ini , Insya Allah minggu depan ini akan ke Bandung, tks. Bu Rusmin Hs UNG.

minhusain@gmail.com

Osa Margana mengatakan...

Terima kasih dengan ilmu yang diberikan pada blog ini.....

Poskan Komentar